Nama : Laurentius Kikie Pratama
kelas : 1KA26
Kel : 2
NPM : 13110983
Tugas ISD bab 3
1. Mahasiswa dapat menyebutkan factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
a. Pengertian Individu
Dalam ilmu social individu adalah bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dippisahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Seperti keluarga sebagai kelompok social yang terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ayah dan ibu merupakan individu yang tidak dapat dipisahkan lagi. Anak masih bias di bagi lagi karena dalam satu keluarga memungkinkan untuk mempunyai anak lebih dari 1.
b.Pengertian Keluarga
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga "kulawarga" yang berarti "anggota" "kelompok kerabat". Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.Keluarga inti ("nuclear family") terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka.
c.Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama.Seperti; sekolah, keluarga,perkumpulan, Negara semua adalah masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
1. Pendirian Nativistik. Menurut para ahli dari golongan ini berpendapat bahwa pertumbuhan itu semata-mata ditentukan oleh factor-faktor yang dibawa sejak lahir.
2.Pendirian Empiristik dan environmentalistik. Pendirian ini berlawanan dengan pendapat nativistik, mereka menganggap bahwa pertumbuhan individu semata-nmata tergantung pada lingkungan sedang dasar tidak berperan sama sekali.
3.Pendirian konvergensi dan interaksionisme. Aliran ini berpendapat bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu.
Tahap pertumbuhan individu berdasarkan psikologi
1.Masa vital yaitu dari usia 0.0 sampai kira-kira 2 tahun.
2.Masa estetik dari umur kira-kira 2 tahun sampai kira-kira 7 tahun.
3.Masa intelektual dari kira-kria 7 tahun sampai kira-kira 13 tahun atau 14 tahun.
2.Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian fungsi keluarga.
Pengertian
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan perkembangan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahrikan individu dengan berbgai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Macam-macam fungsi keluarga.
1.Fungsi Bilogis : seperti memelihara anak,memperbanyak keturunan
Merawat dan menafkahai keluarga.
2.Fungsi Psikologis : seperti memberikan kenyamanan, memberikan perhatian, memberikan identitas yang baik.
3.Fungsi Ekonomi : seperti memberikan kesejahteraan bagi keluarga, memenuhi kebutuhan keluarga.
4.Fungsi Keagamaan : mengajarkan setiap anggota keluarga untuk selalu dekat dengan Tuhan, menjadi Imam yang baik.
5.Fungsi social : membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma yang baik.
6.Fungsi Pendidikan : mendidik anak dan memberikan pendidikan sekolah yang baik bagi anak.
studi kasus :
Kaji Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga
DEPOK – Pelaku dalam kekerasan rumah tangga (KDRT) perlu dikaji secara mendalam aspek psikologis yang melatarbelakangi perbuatannya. Kerap kali psikiater yang menangani pelaku KDRT terburu-buru mencap pelaku KDRT sebagai pengidap gangguan jiwa. “Psikiater dalam menangani kasus KDRT dan meneliti pelaku seringkali terburu-buru mencap pelaku memiliki gangguan jiwa seperti depresi, kurang tidur dan lainnya. Sehingga banyak pelaku KDRT yang lepas dari sanksi hukum dengan alasan tidak bisa dijerat karena mengidap gangguan jiwa”, ujar peneliti dari Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UI, Kristi Poerwandari, Riset Unggulan Universitas Indonesia (RUUI),Rabu(11/6)
Kristi yang dibantu rekannya Nathanael Sumampauw memaparkan hasil penelitian tentang “Mengungkap Aspek Psikologis Pelaku Kekerasan Domestik untuk Upaya Penanggulangan Studi Kasus pada Laki-laki Dewasa yang sedang Menjalani Proses atau hukum.
Menurutnya, jika ditelaah lebih mendalam dalam aspek psikologisnya, latarbelakang pelaku KDRT ini adalah mereka yang mempunyai perilaku yang baik seperti sabar dan penyayang. Ini dibuktikan pada penelitiannya terhadap 10 subjek pelaku KDRT yang berada di Lapas Cipinang dan Polres. “Ada pelaku kekerasan yang bernama Anto usia 24 tahun yang memukuli istri dengan batu ulekan hingga istrinya tewas. Dia dihukum 12 tahun.
Dari beberapa kali wawancara dengannya, ia mengaku sebenarnya ia adalah tipe orang yang sabar terhadap istrinya, bahkan ia seringkali mengucapkan kata sayang kepada istrinya. Dia sendiri mengaku tidak pernah memukul istrinya sebelum kejadian fatal tersebut. Dan dia sering mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dll.
Kekerasan
Penelitian yang dilakukan Kristi ini menelaah aspek psikologis dari pelaku KDRT atau kekeprasan dalam relasi personal untuk mengembangkan usulan mengenai butir-butir penting yang perlu diolah dalam pengembangan program intervensi. “Pertanyaan inti yang diajukan adalah pembelajaran psikologis apakah yang tertanam kuat dalam benak pelaku kekerasan dalam relasi personal, sedari usia dini hingga usia dewasa yang Khususnya aspek sosialisasi, karakteristik psikologis, atribusi kekerasan, ideologi gender yang diyakini serta rangkaian kejadian spesifik sebelum, saat dan segera setelah kekerasan terjadi. “Yang kami temukan dalam penelitian ini adalah bahwa sosialisasi perilaku kekerasan dapat diperoleh melalui contoh atau pembiaran perilaku kekerasan dari figur pengasuhan terpenting atau dari sub budaya yang dijalani bersama teman sebaya.Uniknya, pelaku kekerasan memiliki ketergantungan emosional yang besar kepada pasangannya. Sebagian berpadu dengan egosentrisme dan superioritas, sebagianlain justru dengan perasaan diri kecil atau inferioritas," imbuhnya.
opini : kejadian ini sungguh tragis menurut saya, dimana seorang suami yang tega-teganya dengan mudah untuk melukai istri dan anaknya. mengapa hal ini sering terjadi? itulah pertanyaan yang seharusnya kita perhatikan. KDRT seharusnya tidak dilakukan karena masih banyak cara lain dalam memecahkan masalah dalam rumah tangga.
Tugas ISD bab 4
Pemuda Dan Sosialisasi
1. Mahasiswa dapat menjelaskan internalisasi belajar dengan sosialisasi.
Internalisasi, belajar, dan spesialisasi pada dasarnya memiliki pengertian yang hampir sama. Proses berlangsungnya sama yaitu melalui interaksi sosial. Istilah internalisasi lebih ditekankan pada norma-norma individu yang menginternalisasikan norma-norma tersebut, atau proses norma-norma kemasyarakatan yang tidak berhenti sampai institusional saja, akan tetapi norma tersebut sudah sangat menyatu dalam jiwa anggota masyarakat. Norma tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu norma yang mengatur pribadi dan norma yang mengatur hubungan pribadi .
Istilah belajar ditekankan pada perubahan tingkah laku dan kemampuan seseorang, yang semula tidak dimiliki sekarang telah dimiliki yang semula tidak tahu namu sekarang diketahui oleh seorang individu.
2. Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi
Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.
• Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
• Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
• Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
• Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Studi kasus :
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perilaku pengendara sepeda motor yang tergabung dalam kelompok informal klub sepeda motor Power (Pulsar Owner) Lampung terhadap sosialisasi safety riding (keselamatan berkendara) di jalan raya dari unsur pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta mendeskripsikan hambatan yang dihadapi pengendara sepeda motor dalam sosialisasi safety riding (keselamatan berkendara) di kota Bandar Lampung. Tipe penelitian deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan secara terperinci tentang fenomena sosial keselamatan jalan dengan menggunakan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara bebas terpimpin dengan menggunakan karakteristik teknik purposive sampling. Selain itu, untuk menjamin kredibilitas data dilakukan juga observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, diuraikan tentang perilaku pengendara sepeda motor pada anggota klub sepeda motor Power (Pulsar Owner) Lampung terhadap sosialisasi safety riding (keselamatan berkendara) di jalan raya yang bersifat mengikat secara internal organisasi, dan memiliki tanggung jawab sosial secara eksternal organisasi. Konsep perilaku safety riding (keselamatan berkendara) merupakan nilai-nilai yang mendasari pengendara sepeda motor sebagai individu maupun interaksinya dengan lingkungkan sekitar untuk menjaga ketertiban berkendara sepeda motor yang aman dan nyaman di jalan raya. Tindakan safety riding (keselamatan berkendara) terdiri dari faktor teknis dan non teknis yang dikembangkan dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan pengendara sepeda motor melalui antisipasi persiapan berkendara, pengoperasian kendaraan, dan mengatasi berbagai macam bahaya yang mungkin timbul di jalan raya.
Opini : saya sangat setuju dengan studi kasus penelitian mengenai perilaku yang baik dalam berkendara. Selain hal tersebut dapat mengurangi angka kematian atau kecelakaan yang sangat menghawatirkan, dengan adanya penelitian seperti hal diatas juga dapat menghimbau masyarakat untuk lebih berhati – hati dalam berkendara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar