1.Penduduk
Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
• Orang yang tinggal di daerah tersebut
• Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.
Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi. Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan unit-unit ekonomi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.
Studi kasus:
Penduduk dan Kemiskinan di Daerah Perbatasan: Studi kasus di Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara. Ade Latifa dkk. Jakarta: Pusat Penelitian Kependudukan (PPK-LIPI), 2007. . (Lap. Penelitian)
Studi ini merupakan pengukuran kemiskinan yang hanya mendasarkan pada dimensi ekonomi kurang dapat memberikan gambaran yang lengkap tentang kesejahteraan masyarakat suatu daerah, karena hanya meliha dari sisi input saja dan tidakmelihat sisi output yang terefleksi dari variabel sosial-demografi, seperti kesehatan dan pendidikan. Penelitian dilakukan di dua wilayah perbatasan, yaitu wilayah Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kep. Sangihe dan di Kec. Sebatik, Kab. Nunukan dan penelitian lebih difokuskanpada kegiatan pemetaan penduduk miskin ditinjau dari dimensi sosial-demografi, dan secara umum penelitian berjutuan untuk merumuskan indeks kemiskinan berdasarkan perspektif sosial-demografi, khsus dalam penelitian ini; 1. mendapatkan pemahaman tentang kondisi kemiskinan dari perspektif sosial demografi. 2. Merumuskan konsep dan pengukuran indeks kemiskinan rumahtangga, 3. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antara kemiskinan sosial demografi dengan kemiskinan pengeluaran di tingkat rumah tangga. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa indikator sosial-demografi dapat digunakan untuk menghitung indeks tidak sama, karena indikator yang dipilih hanya indikator yang berhubungan signifikan dengan variabel tergangung darijumlah RT, dan angka kemiskinan sosial demografi hanya dapat dipakai untuk kondisi kemiskinan di masing-masing daerah penelitian.
Opini: Peneltian seperti ini harusnya lebih sering dilakukan di berbagai daerah,
terutama pada daerah yang di sinyalir merupakan daerah yang kemampuan ekonomi penduduknya menengah kebawah. Supaya dengan adanya penelitian tersebut dapat diketahui permasalan dari penyebab kemiskinan tersebut dan segera bisa dicari jalan keluarnya.
2.Masyarakat: adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama.Seperti; sekolah, keluarga,perkumpulan, Negara semua adalah masyarakat
Studi kasus
Kesimpulan penelitian yang dihasilkan di Madrasah (1) kegiatan perencanaan hubungan masyarakat di MIN Malang 2 oleh wakil kepala madrasah bagian humas meliputi evaluasi program humas tahun sebelumnya untuk merumuskan program humas tahun berikutnya, kemudian setelah program tersebut dirumuskan maka akan dibahas pada rapat pimpinan yang dihadiri oleh kepala dan para waka apakah ada tambahan atau tidak dari rapat tersebut untuk program humas, wakil kepala madrasah bagian humas juga mengadakan kerjasama dengan wakil kepala madrasah bagian kesiswaan untuk proses pembuatan brosur penerimaan siswabaru, serta bekerjasama dengan komite dan anggota humas dalam perumusan program humas berikutnya dari saran orangtua juga termasuk. Rencana program yang telah disusun diserahkan kepada komite untuk disetujui, pada publikasi humas juga melalui beberapa media seperti kalender, brosur, baliho, spanduk dan blog MIN Malang 2; (2) kegiatan pelaksanaan hubungan masyarakat di MIN Malang 2 meliputi publikasi lembaga, pembuatan kalender, spanduk, brosur, Great Dream Motivation Training (GDMT), bakti sosial, kemah bakti, melibatkan orangtua dalam acara-acara maupun kegiatan yang terkait dengan humas. Pada pelaksanaan program-program humas juga dibantu oleh komite karena mereka merupakan jembatan pihak madrasah dengan pihak luar dan juga memberikan saran mengenai pelaksanaan program humas; (3) kegiatan pengawasan hubungan masyarakat di MIN Malang 2 meliputi Pengawasan dilakukan dengan melihat apakah tujuan sudah tercapai sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya melalui laporan pelaksanaan program yang diberikan wakil kepala madrasah bagian humas, sehingga akan menjadi acuan untuk perumusan program-program humas selanjutnya.
Opini: kegiatan bakti social dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan menurut saya sangat baik dan harus secara rutin dilakukan, agar bisa mengurangi beban orang-orang yang tidak mampu.
3. Kebudayaan adalah
Budaya atau Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
Studi kasus
Pengaruh Budaya terhadap maraknya pernikahan dini di desa
Berdasarkan hasil sensus penduduk pada waktu pemilihan kepala desa yang dilaksanakan pada tanggal 3 agustus 2008, jumlah penduduk Desa Gejugjati sebesar 6.325 jiwa. dengan rincian 2.793 jiwa berjenis kelamin iaki-laki, dan 3.532 jiwa berjenis kelamin perempuan. Sedangkan penduduk yang mempunyai hak pilih suara sebesar 4.301 jiwa. dengan rincian 2.032 jiwa berjenis kelamin laki-laki, dan 2.269 jiwa berjenis kelamin perempuan. (buku sensus Desa Gejugjati tahun 2008). Adapun persyaratan berhak memilih yaitu berumur 17 tahun atau sudah menikah, sedangkan 5% dari pemilih, berumur dibawah 17 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa 5% dari pemilih menikah pada usia dibawah 17 tahun. (Sensus Penduduk tahun 2008 Sewaktu Pemilihan Desa Gejugjati).
Dan hasilnya adalah
Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan selama 2 hari pada tanggal 30 April dan 1 Mei 2009 ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pernikahan dini di Desa Gejugjati Kecamtan Lekok Kabupaten Pasuruan. Dari berbagai faktor tersebut bersifat kompleks dan saling berkitan satu dengan yang lain. Aspek-aspek yang ada paling tidak telah merepresentasikan apa yang ada dalam masyrakat beserta unsur-unsurnya. Dalam perkembanganya kemudian berbagai macam aspek atau pengaruh tersebut menjadikan muncul dan maraknya pernikahan dini di Desa Gejugjati ini.
Dari observasi yang kami lakukan ada satu factor yang sangat dominan yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Faktor itu adalah faktor budaya atau tradisi yang ada dalam masyarakat. Dan faktor ini sangat kental mempengaruhi kehidupan masyarakat di daerah ini. Dengan latar belakang kebudayaan perpaduan antara Etnis Madura dan Agama Islam yang menyatu kental menimbulkan budaya seperti yang ada di Desa Gejugjati seperti itu. Dari faktor budaya atau tradisi tersebut sebenarnya ada beberapa komponen yang membangun di bawahnya. Dan komponen komponen tersebut pada intinya juga bermuara kepada budaya atau tradisi yang ada.
Opini: dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa pernikahan dini sudah merupakan sebuah budaya atau adat,,dalam kata lain hal tersebut sudah biasa dilakukan bahkan sudah sangat menyatu dengan masyarat di desa Gejukjati.dan menurut saya seharusnya hal tersebut tidak harus sepenuhnya dilakukan, karena pasti ada hal negative yang ditimbulkan karena seharusnya pernikahan yang ideal dilakukan adalah pada saat kedua pasangan berada pada tingkat kematangan, dalam segi fisik, pemikiran dan financial.
4. Keterkaitan antar Penduduk
Saling keterkaitan antar penduduk merupakan hal yang wajar dilakukan dalam hidup bermasyarakat. Karena sebagai makhluk social sudah sewajarnya kita menjalin hubungan dengan orang lain untuk memenuhi segala kebutuhan yang tidak dapat kita penuhi sendiri dan juga untuk menjalin hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Maka tidak heran bahwa keterkaitan antar penduduk akan selalu ada dalam setiap sisi kehidupan bermasyarakat.
Studi kasus:
Masyarakat Nagari Kinali, adalah contoh dari masyarakat perdesaan yang multi-etnik, dimana ditemukan berbagai kelompok masyarakat dengan etnik dan latar belakang budaya berbeda. Kehadiran suku Jawa datang melalui program transmigrasi, sementara orang Batak melalui perpindahan penduduk (migrasi), sebagai dampak pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi wilayah Pasaman Barat. Setiap kelompok etnik pendatang memiliki kebudayaan, nilai, norma dan pola kelakuan tersendiri, yang belum tentu sama dengan penduduk lokal. Karena dalam setiap kebudayaan dikenal istilah etnosentrime, yang berarti suatu keyakinan kelompok pendukung satu kebudayaan bahwa nilai dan norma kebudayaan yang mereka anut lebih unggul. Disini lain secara teoritis, masyarakat perdesaan yang bersifat gemeinschaft, kehidupan sosial diasumsikan berlangsung dalam interaksi dan hubungan sosial yang akrab, intim dan menyeluruh (totalitas). Peneliian studi kasus ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan metode penelitian kualitatif, dan pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan terlibat, indepth interview dan studi dokumentasi. Pembahasan topik penelitian difokuskan kepada dinamika interaksi antara tiga etnik dominan, yakni Minang sebagai penduduk lokal, dan jawa, Batak sebagai etnik pendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk lokal memiliki persepsi yang berbeda terhadap keberadaan etnik lain yang selanjutnya berpengaruh terhadap penerimaan mereka terhadap kelompok etnik pendatang. Kelompok etnik jawa dan Batak menilai adat Minangkabau sebagai budaya dominan (dominant culture) sebagai rujukan nilai dan norma bersama dalam hubungan sosial sehari-hari. Suku Jawa relatif lebih cepat membaur, dan mengadopsi tradisi adat penduduk asli sebagai nilai dan norma bersama, sementara orang Batak relatif lebih lambat beradaptasi, tertutup, segregatif, disamping memegang teguh adat istiadat mereka. Perbedaan tingkat adaptasi tersebut muncul karena beberapa faktor, seperti; agama, karakter budaya, tingkat mobilitas, pola migrasi dan jarak ruang antara negera asal dengan daerah baru. Heterogenitas etnik yang ada di Nagari Kinali membawa akibat akan pengayaan budaya dan tradisi masyarakat setempat, karena kehadiran pengaruh unsur-unsur lain tidak membahayakan keberadaan nilai-nilai pokok dari adat istiadat Minangkabau. Arah perubahan yang dapat dihasilkan dari proses akulturasi bersifat reorientasi, yakni perubahan kearah penerimaan struktur normative kebudayaan-kebudayaan lain, sekaligus untuk didjadikan sebagai mekanisme untuk melakukan penguatan kembali (reafirmation), kebudayaan tradisional mereka. Masuknya unsur-unsur baru kebudayaan lain yang bersifat positif tentu saja merupakan mata rantai bagi dinamika perubahan dan modernisasi kehidupan sosial.
Opini : Hal seperti inilah yang seharusnya dilakukan dalam setiap kehidupan bermasyarakat. “Bhineka Tunggal Ika” meski berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Jika kita dapat menjalin hubungan yang baik dengan setiap orang meskipun orang tersebut berbeda agama ataupun berbeda suku, maka hal tersebut pasti menimbulkan hal positif. Dan apabila masyarakat Indonesia pada umumnya menerapkan hal tersebut, pastilah tindakan anarki yang selama ini di bangga-banggakan perlahan akan menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar