Tugas 1 - Etika Untuk
Profesi Non Formil
nama kelompok :
Laurentius Kikie (13110983)
Indra Saputra (13110526)
Sena Lastiansah ( 16110443)
ETIKA PROFESIONALISME SEORANG SUPIR
PRIBADI (INFORMAL)
Banyak sekali jenis-jenis profesi
yang dikatakan informal,di antaranya adalah sebagai supir. Supir atau pengemudi
adalah salah satu profesi yang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang.
Profesi ini seringkali dianggap tidak memiliki prestise dan bahkan menjadi
pilihan terakhir bagi para pencari kerja. Sebagai pihak yg sangat berperan
dalam kelancaran transportasi darat ini, sudah seharusnya seorang supir
memiliki bekal dan pengetahuan tentang lalu lintas.
Hal ini dimaksudkan agar para
penumpang benar – benar merasa nyaman dan lalu lintas tetap terjaga. Misalnya,
mereka harus mengetahui jika lampu merah menyala artinya stop (berhenti) atau
tempat menaikkan dan menurunkan penumpang itu harusnya di halte.Namun apa yg
terjadi sangatlah berbanding terbalik, terkadang di saat lampu merah menyala
masih ada saja supir yg terus melaju dengan kencangnya. Di sisi sebaliknya,
saat lampu hijau menyala ada bis atau angkutan umum lainnya yg masih dengan santainya
terdiam (nge-tem) untuk menunggu penumpang. Dan bisa dibayangkan apa yg terjadi
selanjutnya. Kemacetan menumpuk, polusi udara yg timbul dari kendaraan –
kendaraan yg menumpuk itu, dan polusi suara dari klakson kendaraan yg berada di
belakangnya.Namun yang penulis bahas di tulisan kali ini adalah etika supir
yang lebih spesifik yakni supir pribadi.
Seorang supir pribadi tentunya
berbeda dengan supir-supir pada umumnya.Hal ini di karenakan penghasilannya
berasal dari bos atau majikannya.Sesuai dengan namanya, seorang supir pribadi
memiliki tanggung jawab untuk melakukan kegiatan antar jemput hanya untuk
majikannya saja.Berbeda dengan misal supir angkot yang mengantar khalayak
umum.Oleh sebab itu,sudah seharusnya seorang supir pribadi memiliki sebuah adab
atau etika yang harus di patuhi agar semua kegiatan (antar-jemput) yang
dilakukannya berjalan dengan baik dan benar,karena bila seorang supir pribadi
melanggar etika atau adab tersebut,pastinya akan berdampak fatal bagi
dirinya,terutama karirnya.
Menurut pengamatan saya sebagai
penulis,seorang supir pribadi seharusnya memiliki beberapa beberapa kriteria
etika atau adab yang baik (professional) dan semestinya di patuhi,yakni :
1.
Memiliki pengetahuan dan perilaku berkendara yg
aman, nyaman dan positif
2.
Memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap
profesinya
3.
Memiliki skill (kemampuan) mengemudi yang baik
4.
Mematuhi segala rambu – rambu dan peraturan lalu
lintas yang berlaku
5.
Memiliki loyalitas tinggi dalam mengabdi sebagai
supir
Kriteria pertama ialah memiliki pengetahuan
dan perilaku berkendara yg aman, nyaman dan positif.Hal ini bermakna seorang
supir pribadi harus mengetahui bagaimana cara pelayanan yang baik dalam
berkendara untuk si majikan,seperti membukakan pintu sang majikan ketika hendak
naik ataupun turun dari mobil.Bila kriteria ini di abaikan maka akan terkesan
kurang etis bagi supir terhadap seorang majikannya.
Kriteria kedua ialah memiliki
kesadaran dan tanggung jawab terhadap profesinya.Hal ini dimaksudkan agar
seorang supir memiliki integritas dan tanggung jawab yang tinggi terhadap
profesinya,dalam prakteknya semisal tepat waktu dalam melakukan antar jemput
sang majikan,hal ini sangat penting mengingat waktu itu sangat
berharga,kebanyakan supir sudah melakukannya,namun sebagian yang lain sering telat
dalam pelaksanaanya.Resikonya adalah kemungkinan besar sang majikan akan kesal
dan mungkin saja jika hal ini sering terjadi,sang majikan tak segan-segan akan
memecatnya.
Kriteria ketiga ialah memiliki
skill (kemampuan) mengemudi yang baik.Hal ini sangat urgen bagi seorang supir
pribadi,karena merupaka kunci utama baginya.Seorang supir jika tak memiliki
criteria ini,maka bukan dinamakan seorang supir.Menguasai kendaraan dengan
tidak baik akan menyebabkan hal-hal yang bersifat fatal,seperti kecelakaan,karena
supir kurang sigap dan ahli dalam berkendara.Tentunya hal ini tak hanya
merugikan dirinya tetapi juga sang majikan.
Kriteria keempat ialah mematuhi
segala rambu–rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku.Berkaitan dengan poin
sebelumnya,hal ini juga sangatlah penting dimiliki agar berkendara menjadi
lebihaman dan nyaman.Karena peraturan dibuat untuk tujuan seperti itu.
Kriteria yang terakhir yakni
Memiliki loyalitas tinggi dalam mengabdi sebagai supir.Hal ini sangatlah jarang
dimiliki oleh seorang supir pribadi.Zaman sekarang loyalitas sudah bukan lagi
prioritas,sebab banyak sekali godaan di luar sana yang menginginkan untuk
mengganti pekerjaan.Namun jika seorang supir pribadi bias melakukannya,maka
kemungkinan besar dia akan di berkan upah lebih besar dikarenakan kesetiannya
dalam mengabdi untuk sang majikan.
Dari semua criteria diatas yang
harus dipenuhi. Dibawah ini merupakan kelasalah kesalahan yang harus dihindari
oleh supir.
1.Hujan Deras = Lampu Hazard
Dalam kondisi hujan deras,
jalanan - terutama di jalan tol - seketika akan berubah menjadi pohon natal.
Karena, sebagian besar mobil menyalakan lampu hazard yang justru menyilaukan
dan membahayakan kendaraan lain. Ketika pengemudi tuntut untuk lebih
berkonsentrasi, malah diganggu oleh kedap-kedip lampu hazard yang semestinya
digunakan dalam kondisi darurat. Semisal, sedang mengganti ban kempis di bahu
jalan, atau mobil mogok di bahu jalan, dsb.
Salah kaprah penggunaan lampu
hazard bukan hanya saat hujan deras saja, tapi juga kala konvoi atau sedang iring-iringan,
masuk terowongan (seharusnya menyalakan lampu utama), dan ketika akan mengambil
jalan lurus di perempatan/persimpangan jalan.
2.Penggunaan Wiper Belakangan
Saat ini, sebagian besar mobil
MPV dan SUV (ada sampai tipe termurah) sudah dilengkapi wiper di kaca belakang.
Rupanya, banyak pengemudi yang tidak memahami pemakaiannya. Ketika turun hujan,
beberapa pengemudi segera mengoperasikannya sepanjang perjalanan. Padahal,
fungsi wiper belakang digunakan saat mobil hendak mundur, sehingga pengemudi
bisa melihat kondisi di belakang dengan jelas.
Untuk mobil Eropa dan sebagian
Jepang di kelas menengah ke atas, wiper belakang akan menyala otomatis ketika
tuas transmisi masuk ke gigi "R". Ketika mengemudi, pandangan
pengemudi semestinya lebih fokus ke arah depan, dan sesekali melihat kaca spion
ketika hendak mendahului.
3.Goncangkan Mobil Saat Isi
Bensin
Pada mengisi BBM di SPBU, sering
terlihat pengemudi mobil mengoncang-goncangkan bodi. Anggapannya, dengan
melakukan tindakan tersebut dapat mengisikan BBM ke tangki dengan kapasitas
lebih banyak/penuh. Yang kita tahu, BBM adalah cairan, dan sifat cairan adalah
selalu mengisi dan mencari tempat yang lebih rendah. Jadi tidak perlu
digundang-guncangkan agar lebih penuh.
4.Tambah Kecepatan Saat Lampu
Kuning
Ketika lampu lalulintas menyala
kuning, sebelum menjadi merah, banyak pengemudi kendaraan bermotor malah
mempercepat laju kendaraannya. Padahal, lampu kuning tersebut sebagai
peringatan agar pengemudi melambatkan kendaraan. Dengan mempercepat laju kendaraan,
akan sangat membahayakan pengguna jalan lain. Ketika lampu lalu lintas menyala
merah, maka pengemudi dari arah kiri dan kanan mulai menjalankan kendaraannya.
Bisa terjadi tabrakan fatal. Jika tiba-tiba pengemudi rem mendadak, bisa
ditabrak oleh kendaraan dari belakang.
5.Mendahului Dari Bahu Jalan
Semua pengemudi pasti tahu bahwa
fungsi bahu jalan digunakan saat kendaraan mogok, ganti ban, atau untuk akses
mobil patroli jalan tol memberikan pertolongan dalam kondisi darurat.
Padahal,pihak pengelola jalan tol sudah berkali-kali mengingatkan melalui
spanduk dan papan elektronik. Bahkan salah satu klub otomotif telah
mencanangkan gerakan "anti bahu jalan", tetap saja pelanggaran sering
terjadi. Malah sekarang salah kaprah itu bertambah, bahu jalan adalah lajur
khusus pejabat.
6.Jalan Pelan Di sebelah Kanan
Jika melihat truk melintas di
lajur kanan di sepanjang jalur pantura, itu sudah biasa. Ternyata, kebiasaan
itu menular ke mobil-mobil pribadi di jalan tol. Ketika penulis hendak
mendahului dan memberi tanda dengan klakson atau lampu dim, mobil tersebut
malah menyalakan sign kanan. Jadi, mobil yang lebih cepat disuruh mendahului
dari kiri. Waduuuh..., padahal sudah dipasang banyak himbauan di jalan tol:
"lajur kanan hanya untuk mendahului....".
7.Menekan Pedal Gas Sebelum
Mematikan Mesin
Banyak ditemui pengemudi menekan
pedal gas mobil dalam-dalam sebelum mematikan mesin (memutar kunci kontak ke
"off"). Mereka beranggapan dengan demikian maka accu mobil akan
terisi, ruang pembakaran lebih bersih, sehingga mobil akan lebih mudah
di-start.
Padahal, dengan menekan pedal
gas, maka pompa bahan bakar dan pelumas akan menghisap BBm dan oli. Jika
kemudian tiba-tiba mesin dimatikan, maka sisa BBM yang tidak terbakar akan
menumpuk di saluran pembakaran. Justru lebih baik mesin dibiarkan idle sekitar
10 menit sebelum dimatikan, sehingga kondisi ruang pembakaran dan pendinginan
mesin lebih optimal.
8.Tidak Menyalakan Lampu Sign
Saat Mendahului
Banyak pengemudi tidak menyalakan
sign saat berpindah jalur atau memotong jalur untuk mendahului kendaraan lain.
Mereka beranggapan bahwa jika menyalakan lampu sign, justru tidak akan diberi
kesempatan oleh kendaraan di belakangnya. Fenomena ini memang aneh, justru yang
memberitahu dan meminta ijin untuk memotong jalur dengan menyalakan lampu sign
kok malah sering tidak dikasih jalan...
9.Lampu Sign Hanya Untuk Belok
Kanan
Masih soal lampu sign, pengemudi
di Indonesia terkenal irit menggunakannya. Lampu sign (atau lampu belok) hanya
digunakan / dinyalakan saat kendaraan hendak belok kanan saja. Itupun dengan
syarat, benar-benar belok dengan sudut minimal 90 derajat. Jika belok kanan
hanya serong sedikit (seperti huruf "Y"), tidak perlu lampu sign
dinyalakan.
Sehingga sangat jamak ditemukan,
mobil keluar atau masuk di pintu tol tidak perlu lampu sign. Keluar atau masuk
ke rest area, tidak perlu nyalakan sign. Belok kiri di perempatan, tidak perlu
lampu sign. Mobil mundur hendak masuk area parkir, tidak perlu sign dst, dst.
10.Jalanan = Tempat Sampah
Pengemudi kita menganggap jalan
raya adalah tempat sampah. Mulai dari supir kendaraan umum, sampai pengemudi
mobil mewah sering membuang sampah sembarangan. Yang paling sering adalah abu
serta puntung rokok yang masih menyala dibuang sembarangan. Juga tissu, kulit
buah, botol minuman berenergi, dsb. Sampah terbesar yang pernah saya lihat
dibuang sembarangan di jalan tol
adalah popok bayi (pampers). Bukan sembarang popok, karena dibuang lengkap
dengan isinya... Bisa dibayangkan betapa kagetnya kendaraan di belakangnya dan
indahnya pemandangan setelahnya
kesimpulan dari tulisan yang saya
buat ini adalah bahwasannya seorang supir pribadi sudah seharusnya memiliki
adab atau etika yang mesti dipatuhi demi kelancaran dan kenyamanan
berkendara,sebab supir pribadi itu berbeda dengan supir lain pada umumnya.Dimana
ia hanya bekerja dan bertanggung jawab pada sang majikan saja dan mengabdi
untuk kepentingannya.Dengan memiliki kriteria seperti yang dijabarkan
diatas,seorang supir diharapkan bias menjadi seorang yang professional di
karirnya dan juga mampu mengatasi kebiasan kebiasan buruk dalam berkendara.
UGAS 2 – Link Presentasi Yang telah kami buat
http://www.youtube.com/watch?v=BxekHAiIZjU&feature=youtu.be
Tidak ada komentar:
Posting Komentar